Ketidakpastian Karier Guru dan Nakes PPPK: Negara yang Menuntut Pengabdian, Tapi Enggan Memberi Masa Depan

Guru dan tenaga kesehatan PPPK adalah wajah terdepan negara di ruang kelas dan ruang perawatan. Mereka mendidik generasi, menyelamatkan nyawa, dan menjaga layanan publik tetap berjalan. Namun ironisnya, mereka sendiri bekerja dalam ketidakpastian yang diciptakan oleh negara yang mereka layani. Pengabdian diminta sepenuh hati, tetapi masa depan ditawarkan setengah hati.

Di sekolah dan fasilitas kesehatan, guru dan nakes PPPK memikul beban kerja yang sama—bahkan sering lebih berat—dibanding PNS. Mereka mengajar di daerah terpencil, berjaga dengan fasilitas terbatas, dan menghadapi tekanan sosial yang tidak kecil. Namun ketika jam kerja usai, satu pertanyaan terus menghantui: apakah kontrak ini akan diperpanjang?

Ketidakpastian karier telah menjelma menjadi kekerasan struktural yang halus. Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi terus menggerogoti semangat kerja. Guru PPPK diminta mencetak generasi masa depan, sementara masa depan mereka sendiri tak pernah dipastikan. Nakes PPPK diminta bekerja tenang dan presisi, padahal hidup mereka penuh kecemasan administratif.

Dalam kondisi seperti ini, negara masih berani berbicara tentang kinerja, mutu pendidikan, dan kualitas layanan kesehatan. Padahal, aparatur yang bekerja di bawah ancaman kontrak tahunan bukan sedang membangun sistem, melainkan sekadar bertahan hidup. Yang tumbuh bukan inovasi, tetapi kepatuhan. Yang lahir bukan dedikasi jangka panjang, tetapi ketakutan kehilangan pekerjaan.

Lebih menyakitkan, pengabdian guru dan nakes PPPK kerap dijadikan narasi manis dalam pidato-pidato resmi. Mereka dipuji sebagai pahlawan pendidikan dan kesehatan, tetapi diperlakukan sebagai tenaga sementara. Pujian menjadi murah ketika tidak diikuti keberanian memberi kepastian.

Jika negara benar-benar menghargai profesi guru dan tenaga kesehatan, maka ketidakpastian karier seharusnya menjadi masalah serius, bukan sekadar catatan kebijakan. Sebab kualitas pendidikan dan kesehatan tidak mungkin dibangun di atas kecemasan kolektif para pelaksananya.

Pertanyaannya kini tidak lagi teknis, melainkan moral: apakah wajar negara membangun masa depan anak-anak dan keselamatan rakyat di atas karier guru dan nakes yang rapuh? Jika jawabannya ya, maka jangan heran bila sistem ini kehilangan jiwa.

Guru dan nakes PPPK tidak menuntut keistimewaan. Mereka hanya menuntut keadilan: kepastian karier yang sebanding dengan tanggung jawab yang dipikul. Selama ketidakpastian ini terus dipelihara, negara sedang mengirim pesan berbahaya—bahwa pengabdian bisa diminta, tetapi masa depan tidak perlu dijamin.

Dan pada titik itu, yang sedang kita pertaruhkan bukan sekadar nasib PPPK, melainkan kualitas pendidikan dan kesehatan bangsa itu sendiri.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form